Rabu, 17 Oktober 2012

Manfaat Kina (Cinchona ledgeriana Moens) Sebagai Obat Malaria


Sejarah Singkat
Kina merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia. Daerah tersebut meliputi hutan pada ketinggian 900-3.000 m dpl. Bibit tanaman kina yang masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari Bolivia, tetapi tanaman kina yang tumbuh dari biji tersebut akhirnya mati. Pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina dari Bolivia ditanam di Cibodas dan tumbuh 75 pohon yang terdiri atas 10 klon. Kina dikenal di daerah-daerah dengan sebutan kina, sinkona kina merah, kina kalisaya dan kina ledgeriana.
Dahulu pembudidayaan tanaman kina dilakukan oleh perkebunan-perkebunan orang Eropa. Perkebunan kina rakyat terdapat di daerah Priangan (Jawa Barat), Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat dan Papua. Budidaya tanaman kina oleh rakyat biasanya dilakukan di tanah-tanah bekas perkebunan kopi milik pemerintah yang diserahkan kepada rakyat. Indonesia merupakan penghasil kina terbesar didunia.
Klasifikasi
Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi  : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi              : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas              : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas      : Asteridae
Ordo              : Rubiales
Famili            : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus            : Cinchona
Spesies          : Cinchona ledgeriana
Moens
Deskripsi
Tinggi pohon antara 4-10 m, cabang berbentuk segi empat, berbulu halus. Daun berbentuk elips hingga lanset, bagian pangkal lancip dan tirus, ujung daun lancip dan jorong, helaian daun tipis, berwarna ungu terang tetapi daun muda berwarna kemerahan, tangkai daun tidak berbulu, berwarna hijau atau kemerahan, panjang tangkai 3-6 mm. Ukuran daun panjang 25.5-28.5 cm, lebar 9-13 cm, namun adakalanya panjang 7 cm dan lebar 2 cm. Daun penumpu bundar sampai lonjong panjang 17-2 mm dan tidak berbulu. Mahkota bunga berwarna kuning agak putih dan berbau wangi, bentuk melengkung dengan ukuran panjang 8-12mm. Panjang malai 7-18 cm dan gagang segi empat sangat pendek dan berbulu rapat. Kelopak bunga bentuk limas sungsang 3-4 mm, tabung tebal ditutupi bulu warna putih, tabung mahkota bunga bagian luarnya berbulu pendek tapi bagian dalamnya gundul dengan 5 sudut. Tangkai sari tidak ada. Buah lanset sampai bulat telur denga ukuran panjang 8-12 mm dan lebar 3-4 mm. Biji lonjong sampai lanset panjang 4-5 mm.
Senyawa Alkaloid Kina dan Manfaatnya terhadap Penyakit Malaria
Sejak tahun 1863 malaria telah dapat diatasi dengan getah pohon Cinchona, yang lebih dikenal dengan kina (quinin) yang sebenarnya beracun dan menekan pertumbuhan protozoa dalam sel darah. Kina (C. ledgeriana) merupakan tanaman industri penghasil senyawa alkaloid yang dapat digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, industri makanan dan minuman serta agrokimia lainnya. Senyawa antimalaria tertua (tahun 1820) untuk mengobati demam malaria adalah kulit pohon kina (C. ledgeriana).
Gambar 1. Struktur kimia quinin
Quinin merupakan alkaloid penting yang dapat diperoleh dari kulit pohon sinkona atau kina dan termasuk golongan kuinolin methanol yang memiliki:
1. Spektrum Afinitas Obat
a. Skizontosida darah
Quinin aktif sebagai skizontosida darah terhadap semua jenis Plasmodium. Senyawa ini digunakan untuk kasus kegagalan pengobatan malaria tanpa dan dengan komplikasi.
2. Gametositosida
Bersifat gametosida terhadap stadium gametosit P. vivax, P. malarie dan P. ovale.
 Farmakokinetik
Setelah melewati lambung, kina dengan cepat dan sempurna diserap oleh usus halus, kemudian sebagian besar (sekitar 70%) beredar dalam bentuk basa yang terikat pada protein plasma. Konsentrai puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 1-3 jam setelah dosis pertama. Kontraksi dalam eritrosit seperlima konsentrasi dalam plasma. Kina cepat melewati barrier plasenta dan dapat ditemukan dalam cairan serebropinal. Sebagian besar kina dimetabolisir di dalam hati dalam waktu 10-12 jam dan dieskresikan melalui urin.
5. Toksisitas dan Efek Samping
Dosis tunggal > 3 g dapat menyebabkan timbulnya intoksikasi akut, didahului dengan gejala depresi sususnan saraf pusat dn kejang hingga kematian. Gejala lain yaitu hipotensi, cardiac arrest (gagal jantung) dan gangguan penglihatan hingga kebutaan.
Pada pemakaian dosis harian, yaitu antara 600-1.500 mg akan menyebakan timbulnya beberapa gejala sebagai berikut:
a. Sindrom Cinchonism: tinitus/telinga berdenging, gangguan pendengaran, serta vertigo/pusing. Gejala ini biasanya timbul pada hari kedua, walaupun demikian pengobatan harus tetap dilanjutkan.
b. Gangguan pada jantung dan peredaran darah, gastrointestinal, serta sistem saraf pusat akibat akumulasi obat per oral atau pemberian per infus yang berleihan. Hipotensi berat juga dapat terjadi bila pasien diinjeksi terlalu cepat.
Hipoglikemis terjadi pada infus kina, hal ini disebabkan obat akan menstimulasi sekresi insulin oleh sel β pankreas terutama pada ibu hamil.
Penanganan: Tidak ada zat penangkal bagi kina, sehingga penanganan dilakukan secara simptomatis.
6. Kontra Indikasi: idiosinkrasi, riwayat black water fever.
7. Interaksi Otot
Kina tidak boleh diberikan bersama dengan obat antimalaria lain, sperti amiodarane dan flecanide. Resiko aritmia ventrikuler meningkat jika diberi bersama dengan antihistamin seperti tefenadin, antipsitotik seperti pimozide dan thioridazine. Simetidin akan menghambat metabolisme kina. Rifampicin akan menurunkan konsentrasi plasma kina, sehingga akan meningkatkan angka kegagalan pengobatan.
8. Formulasi Obat
a. Tablet berlapis gula, 222 mg kina sulfat.
b. Injeksi: i ampul 2 cc kina dihidroklorida 255 setara dengan 500 mg.
Contoh: Kina Sulfat haeptahidrat 2 mg/tablet salut
Kemasan: tube 10 tablet; dos 12 tablet; botol 1000 tablet.

Selasa, 09 Oktober 2012

biosyntesis flavonoid

Flavonoid merupakan kelompok metabolit sekunder yang banyak tersebar di alam, tersebar banyak di tumbuhan dan senyawa tertentu menunjukkan aktivitas farmakolgis estrogenik, antioksidan, antiviral, antibakteri, antiobesitas, dan anticancer. Biasanya, flavonoid dibagi menjadi 3 kategori yaitu:
1.    Flavon, turunannya adalah flavonol, isoflavon,
2.    Flavan, turunannya adalah
3.    Antosian, turunannya adalah
Ikatan rangkap, hidroksilasi, dan posisi cincin adalah pembeda dari kategori tersebut. Kemampuan farmakolois flavonoid sangat luas dan sekarang mendapat perhatian yang lebih. Pengembangan tidak hanya ke arah suplemen, namun juga ke arah treatment untuk penyakit kronis termasuk kanker dan diabetes (Popiolkiewicz et al. 2005). Sebagai contoh pada percobaan in vivo menggunakan tikus sebagai model untuk diabetes, pemberian glucosylated flavanone hesperidin dan flavanone naringenin memberikan hasil yang sangat efektif pada perbaikan metabolisme lemak, dengan cara mengubah aktivitas enzim dan pada saat yang sama menurunkan level gula dengan cara down-regulasi hepatic GLUT2 dan glucose-6-phosphotase dan secara simultan up-regulasi hepatic glucokinase dan adipocyte GLUT4 (Ae Park et al., 2006).
  
 Flavanon, merupakan prekursor langsung pada kebanyakan flavonoid, disintesis dari asam amino fenilalanin atau tirosin (Gambar 1). Proses dimulai dengan enzyme phenylalanine/tyrosine ammonia lyase (PAL/TAL), mengubah buillding block asam amino menjadi phenyl-propanoic acid. Jalur biosintetik flavanon jga melibatkan enzim cytochrome-P450, cinnamate 4-hydroxylase (C4H), dengan cara menambahkan gugus 4′-hydroxyl cincin aromatik phenylalanine. Esters CoA selanjutnya disintesis dari phenylpropanoic acids dengan bantuan enzim phenylpropanoyl-CoA ligases, seperti 4- coumaryl: CoA ligase (4CL). Type III polyketide synthase chalcone synthase (CHS) kemudian mengkatalisis kondensasi berurutan 3 malonyl-CoA demgam 1 CoA-ester membentuk chalcones. Ini adalah langkah biosintesis yang menghasilkan flavonoid pertama, ada juga jalur alternatif yaitu enzim type III polyketide synthases yang memiliki homologi yang tinggi dengan CHS (>70%) menggunakan prekursor yang sama membentuk stilbenes (menggunakan 3 unit malonyl-CoA), benzylacetolactone (hanya menggunakan 1 unit malonyl-CoA), dan molekul aromatik yang lain.

Sabtu, 06 Oktober 2012

FLAVONOID


FLAVONOID
Apa phytochemical?
Fitokimia adalah bahan kimia tanaman non-gizi yang memiliki sifat pencegahan pelindung atau penyakit. Mereka adalah nutrisi yang tidak penting, yang berarti bahwa mereka tidak dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk mempertahankan hidup. Hal ini dikenal bahwa pabrik memproduksi bahan kimia untuk melindungi diri mereka sendiri, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka juga dapat melindungi manusia terhadap penyakit. Ada lebih dari seribu phytochemical yang dikenal. Beberapa terkenal phytochemical yang likopen dalam tomat, isoflavon dalam kedelai dan flavanoids dalam buah-buahan.

 

Bagaimana phytochemical bekerja?
Ada banyak fitokimia dan masing-masing bekerja secara berbeda. Ini adalah beberapa tindakan yang mungkin:
o   Antioksidan - fitokimia Kebanyakan memiliki aktivitas antioksidan dan melindungi sel-sel kita terhadap kerusakan oksidatif dan mengurangi risiko mengembangkan beberapa jenis kanker. Fitokimia dengan aktivitas antioksidan: sulfida alil (bawang, daun bawang, bawang putih), karotenoid (buah-buahan, wortel), flavonoid (buah-buahan, sayuran), polifenol (teh, anggur).

o    Aksi hormon - Isoflavon, ditemukan dalam kedelai, meniru estrogen manusia dan membantu mengurangi gejala menopause dan osteoporosis.

o    Stimulasi enzim - Indole, yang ditemukan dalam kubis, merangsang enzim yang membuat estrogen kurang efektif dan bisa mengurangi risiko kanker payudara. Phytochemical lainnya, yang mengganggu enzim, adalah protease inhibitor (kedelai dan kacang-kacangan), terpene (buah jeruk dan ceri).

o    Interferensi dengan replikasi DNA - Saponin ditemukan dalam kacang mengganggu replikasi DNA sel, sehingga mencegah perbanyakan sel-sel kanker. Capsaicin, ditemukan dalam cabai, melindungi DNA dari karsinogen.

o    Efek anti bakteri - The allicin fitokimia dari bawang putih memiliki sifat anti-bakteri.

o    Tindakan fisik - Beberapa phytochemical mengikat secara fisik ke dinding sel sehingga mencegah adhesi patogen pada dinding sel manusia. Proanthocyanidins bertanggung jawab atas anti-adhesi sifat cranberry. Konsumsi cranberry akan mengurangi risiko infeksi saluran kemih dan akan meningkatkan kesehatan gigi..
Bagaimana kita mendapatkan phytochemical cukup?
Makanan yang mengandung phytochemical sudah bagian dari makanan sehari-hari kita. Pada kenyataannya, kebanyakan makanan mengandung phytochemical kecuali untuk beberapa makanan olahan seperti gula atau alkohol. Beberapa makanan, seperti biji-bijian, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan dan rempah-rempah, banyak mengandung fitokimia. Cara termudah untuk mendapatkan lebih banyak phytochemical adalah makan lebih banyak buah (blueberry, cranberry, ceri, apel, ...) dan sayuran (kembang kol, kubis, wortel, brokoli, ...). Disarankan ambil setiap hari setidaknya 5 sampai 9 porsi buah atau sayuran. Buah-buahan dan sayuran juga kaya akan mineral, vitamin dan serat dan rendah lemak jenuh.
Masa Depan phytochemical
Fitokimia secara alami hadir dalam banyak makanan namun diharapkan bahwa melalui bioteknologi tanaman baru akan dikembangkan, yang akan berisi tingkat yang lebih tinggi. Ini akan membuat lebih mudah untuk memasukkan phytochemical cukup dengan makanan kita.
RUMUS FLAVONOID
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan.Lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah diidentifikasi, namun ada tiga kelompok yang umum dipelajari, yaitu antosianin, flavonol, dan flavon. Antosianin (dari bahasa Yunani anthos , bunga dan kyanos, biru-tua) adalah pigmen berwarna yang umumnya terdapat di bunga berwarna merah, ungu, dan biru . Pigmen ini juga terdapat di berbagai bagian tumbuhan lain misalnya, buah tertentu, batang, daun dan bahkan akar. Flavnoid sering terdapat di sel epidermis.Sebagian besar flavonoid terhimpn di vakuola sel tumbuhan walaupun tempat sintesisnya ada di luar vakuola

 

Fungsi
Antosianin dan flavonoid lainnya menarik perhatian banyak ahli genetika karena ada kemungkinan untuk menghubungkan berbagai perbedaan morfologi di antara spesies yang berkerabat dekat dalam satu genus misalnya dengan jenis flavonoid yang dikandungnya.Flavonoid yang terdapat di spesies yang berkerabat dalam satu genus memberikan informasi bagi ahli taksonomi untuk megelompokkan dan menentukan garis evolusi tumbuhan itu.
Cahaya khususnya panjang gelombang biru meningkatkan pembentukan flavonoid dan flavonoid meningkatkan resistensi tanaman terhadap radiasi UV.
Quercetin dan myricetin, merupakan jenis flavonoid yang melindungi sel Caco-2 yang terdapat pada saluran pencernaan dari oksidasi rantai ganda DNA dan bersifat antioksidan yang melindungi kolonosit dari stress oksidatif
EKTRAKSI FLAVONOID
Metabolit flavonoid (terutama glikosida) dapat terdegradasi oleh aktifitas enzim dalam bahan tanaman bahan segar atau belum dikeringkan. Dengan demikian dianjurkan untuk menggunakan kering, sampel liofilisasi atau beku. Penggunaan simplisia kering umumnya digiling dulu menjadi bubuk. Pada proses ekstraksi sebaiknya memilih pelarut sesuai jenis flavonoid yang dibutuhkan sehingga mesti mempertimbangkan polaritas pelarut. Jenis flavonoid non polar (misalnya, isoflavon, flavanon, flavon alkohol dan flavonol) diekstraksi menggunakan pelarut kloroform, diklorometana, dietil eter, atau etil asetat, sementara glikosida flavonoid dan aglikon akan lebih tepat diekstraksi dengan alkohol atau campuran alkohol-air. Untuk glikosida kelarutannya meningkat jika dalam air atau campuran alkohol-air. Umumnya sebagian besar proses ekstraksi bahan yang mengandung flavonoid masih dilakukan secara sederhana dengan penambahan langsung pelarut ekstraksi.
Bahan tanaman bubuk juga dapat diekstraksi menggunakan alat Soxhlet, pada awalnya dengan hexan, untuk menghilangkan lipid kemudian dengan etil asetat atau etanol untuk mendapatkan senyawa fenolat. Metode ini sebenarnya kurang cocok untuk kandungan senyawa yang tidak tahan panas. Prosedur aman dan sering digunakan adalah pelarut ekstraksi sekuensial. Tahap pertama, dengan diklorometan, untuk mengekstrak aglikon flavonoid dan kandungan non polar. Tahap berikutnya dengan alkohol akan mengekstrak glikosida flavonoid dan kandungan senyawa polar.
            DALAM SUATU PRAKTIKUM MENGATAKAN
Flavonoid merupakan salah satu dari sekian banyak senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu tanaman, yang bisa dijumpai pada bagian daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga dan biji. Secara kimia, flavonoid mengandung cincin aromatik tersusun dari 15 atom karbon dengan inti
dasar tersusun dalam konjugasi C6-C3-C6 (dua inti aromatik terhubung dengan 3 atom karbon) (10, 11). Keberadaan cincin aromatik menyebabkan pitanya terserap kuat pada daerah panjang UV-vis.

Kromatografi kertas yang dilakukan menghasilkan 5 buah pita yang terpisah secara jelas yang memberikan flouresensi yang berbeda-beda di bawah lampu UV dan sinar tampak 366 nm dengan bantuan uap amoniak. Dari warna-warna yang timbul di dapat petunjuk kemungkinan-kemungkinan
flavonoid yang terdapat masing-masing pita berdasarkan literature (9, 13).

Untuk uji flavanoid, pada praktikum ini dilakukan tiga uji yaitu menggunakan H2SO4, NaOH, dan HCl+Mg. penggunaan H2SO4 untuk uji flavanoid, akan memberikan warna merah jika ekstrak menagndung flavonoid. Sementara untuk NaOH kita akan mendapatkan warna kuning jika ekstrak mengandung falvonoid. Sedangkan untuk penggunaan HCl+Mg maka akan memberikan warna merah.
Penggunaan H2SO4  ketiga herbal tidak memberikan warna merah, hal ini berarti bahwa ketiga herbal tersebut tidak mengandung flavanoid. Sementara untuk NaOH, daun seledri menunjukan positif 3 sedangkan buah cabe menunjukan positif 1. Ketiga pereaksi memiliki reaksi yang spesifik untuk jenis flavonoid tertentu. Jika ekstrak tidak menunjukan hasil positif pada salah satu pereaksi flavonoid, berarti jenis dari flavonoid yang terkandung dalam ekstrak   tersebut tidak memberi efek pada pereaksi tersebut.
Kandungan flavonoid pada herbal seledri asal manokwari menunjukan hasil yang sama untuk daerah asal lain. Demikian juga dengn ekstrak daun jambu biji juga sama mengandung flavonoid.
masalah yang timbul:
 selain Quercetin dan myricetin, merupakan jenis flavonoid yang melindungi sel Caco-2 yang terdapat pada saluran pencernaan dari oksidasi rantai ganda DNA dan bersifat antioksidan yang melindungi kolonosit dari stress oksidatif.apa lagi senyawa yang didalam nya terdapat senyawa flavonoid yang bermanfaat bagi mahluk hidup?

REFERENSI
1.      ^ (Inggris)Hahlbrock K. 1981. Flavonoids. dalam The Biochemistry of Plants, Vol. 7: Secondary Plant Products. New York: Academic Press. Hal:425-456.
2.      ^ a b c d e f g Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. penerjemah: Lukman DR, Sumaryono. Bandung:Penerbit ITB. Hal:150-152. ISBN 979-8591-27-5
3.      ^ (Inggris)"Dietary flavonoids protect human colonocyte DNA from oxidative attack in vitro". Rowett Research Institute; Duthie SJ, Dobson VL. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10338685. Diakses pada 4 Oktober 2010.
5.      lansida.blogspot.com/2012/01/ekstraksi-flavonoid.html


biodiselPROSES PEMBUATAN BIODIESEL DENGAN BAHAN BAKU JATROPHA CURCAS ( JARAK PAGAR ) By : Ira Syahirah, SSi “ A Researcher Biodiesel “ I. Mengenal Jatropha curcas 1. Mengapa Jatropha curcas ? Jatropha curcas (jarak pagar) merupakan salah satu tanaman yang paling prospektif untuk diproses menjadi Biodiesel karena selain relatif mudah ditanam, toleransinya tinggi terhadap berbagai jenis tanah dan iklim, produksi minyak tinggi, serta minyak yang dihasilkan tidak dapat dikonsumsi oleh manusia sehingga tidak mengalami persaingan dengan minyak untuk pangan. Minyak jarak pagar berwujud cairan bening berwarna kuning dan tidak menjadi keruh sekalipun disimpan dalam jangka waktu lama. Tanaman Jatropha curcas (jarak pagar) termasuk tanaman semak dari keluarga Euphorbiaceae yang tumbuh cepat dengan ketinggian mencapai 3 – 5 meter. Umumnya, seluruh bagian dari tanaman ini mengandung racun sehingga hampir tidak memiliki hama. Tanaman ini mulai berbuah pada umur 5 bulan, dan mencapai produktivitas penuh pada umur 5 tahun. Buahnya berbentuk elips dengan panjang sekitar 1 inchi (sekitar 2,5 cm) dan mengandung 2 – 3 biji. Usia Jatropha curcas apabila dirawat dengan baik, dapat mencapai 50 tahun. 2. Penanaman Penanaman jarak pagar dapat dilakukan sebagai berikut : - Penanaman dilakukan pada awal atau sebelum musim hujan. Tinggi bibit dari persemaian sudah mencapai minimal 30 cm. - Lapangan dibersihkan dan dibuat lubang 30 cm x 30 cm x 30 cm, jarak tanam 2m x 2 m, lalu dibiarkan selama 2 – 3 minggu. - Setelah bibit ditanam, bulan berikutnya dilakukan pembersihan gulma setiap bulan sampai 4 bulan berikutnya. - Pemupukan pada tahun pertama dilakukan 1/3 dosis dan tahun selanjutnya dengan dosis penuh. Dosis tersebut adalah 50 kg urea, 150 kg SP-36, dan 50 kg KCl / ha. Pada tanah yg kurang subur harus diberi kompos atau pupuk kandang sebanyak 2,5 – 5 ton / ha. Porsi urea dan KCl bisa ditingkatkan sampai maksimum 2 kali lipat. - Pemangkasan dilakukan sejak tanaman mencapai tinggi 1 m (umur 1 tahun). Pemangkasan pada ketinggian 20 cm dari pangkal batang, dilakukan setiap tahun untuk setiap trubusan baru. 3. Panen dan Pasca Panen Panen biji perlu dilakukan secara benar agar tidak diperoleh biji hampa, kadar minyak rendah, dan bahkan akan menyebabkan minyak menjadi asam. Berikut beberapa cara penanganan biji di lapangan : - Panen dilakukan pada buah yang telah masak dengan ciri kulitnya hitam atau kulit buah terbuka. - Cara pemanenan yang efisien, yaitu buah diambil per malai dengan syarat jumlah buah yang matang lebih banyak dari buah mentah. - Buah sebelum disimpan terlebih dahulu dikeringkan untuk keperluan produksi minyak. Buah dapat langsung dikeringkan di bawah sinar matahari setiap hari sampai kulit buah mudah dipisahkan dari biji secara manual, tetapi untuk benih cukup diangin – anginkan atau dikeringkan di dalam oven suhu 60­ 0C. - Pemisahan kulit buah dilakukan dengan menggunakan tangan atau mesin. Selanjutnya, biji dikeringkan setiap hari sampai benar – benar kering (kadar air 7 – 10 %). Setelah kering, biji disimpan di dalam kantong plastik. Kantong – kantong plastik tersebut dimasukkan ke dalam karung plastik yang ditutup rapat menggunakan tali, kemudian disimpan di atas lantai beralas bata atau papan. Kemasan harus dihindarkan dari kontak langsung dengan lantai agar tidak lembab. 4. Produktivitas Jatropha curcas Produktivitas biji Jatropha curcas bergantung kepada kesuburan tanah. Seperti tanaman lainnya, semakin subur lahan maka produktivitasnya juga tinggi. Meskipun demikian, tanaman ini memiliki kelebihan yaitu dapat bertahan hidup dalam kondisi kekeringan yang ekstrim. Menurut Hartono, 2006, produksi biji per hektar pada tanah normal sebesar 2.500 kg, dapat menghasilkan minyak sekitar 30 – 35 % atau 830 kg. Dan menurut Syah, 2006, 75 kg minyak jarak pagar menghasilkan 71,88 kg biodiesel. Dari kedua data tersebut di atas dapat diperkirakan bahwa untuk memproduksi biodiesel sebanyak 8 ton, diperlukan biji ± 25.000 kg. Menurut Hartono, 2006, pada tanah normal dengan jarak tanam 2m x 2m yang jumlah tanamannya per hektar berkisar 2.500 tanaman, dan produksi biji per pohon per tahun adalah ± 5 kg. Sehingga biji sebanyak 25.000 kg ( pabrik kapasitas 8 ton ) diperlukan lahan sekitar 740 hektar. II. Proses Pembuatan Biodiesel dari Jatropha curcas Dalam proses pengolahan biji jarak menjadi biodiesel, dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu : 1. Proses Pembuatan Crude Jatropha Oil (CJO) - Biji jarak dibersihkan dari kotoran dengan cara dicuci secara manual atau masinal (dengan mesin). - Biji direndam sekitar 5 menit di dalam air mendidih, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. - Biji dikeringkan dengan menggunakan alat pengering atau dijemur di bawah matahari sampai cukup kering, kemudian biji tersebut dimasukkan ke dalam mesin pemisah untuk memisahkan daging biji dari kulit bijinya. - Daging biji yang telah terpisah dari kulitnya, digiling dan siap untuk dipres. Lama tenggang waktu dari penggilingan ke pengepresan diupayakan sesingkat mungkin untuk menghindari oksidasi. - Proses pengepresan biasanya meninggalkan ampas yang masih mengandung 7 – 10 % minyak. Oleh sebab itu, ampas dari proses pengepresan dilakukan proses ekstraksi pelarut, sehingga ampasnya hanya mengandung minyak kurang dari 0,1% dari berat keringnya. Pelarut yang biasa digunakan adalah pelarut n – heksan dengan rentang didih 60 – 70 0C. - Tahap ini menghasilkan Crude Jatropha Oil (CJO), yang selanjutnya akan diproses menjadi Jatropha Oil (JO). 2. Proses Pembuatan Biodiesel a. Reaksi Esterifikasi CJO mempunyai komponen utama berupa trigliserida dan asam lemak bebas. Asam lemak bebas harus dihilangkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu reaksi pembuatan biodiesel (reaksi transesterifikasi). Penghilangan asam lemak bebas ini dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi. Secara umum reaksi esterifikasi adalah sebagai berikut : (Klik di sini) Pada reaksi ini asam lemak bebas direaksikan dengan metanol menjadi biodiesel sehingga tidak mengurangi perolehan biodiesel. Tahap ini menghasilkan Jatropa Oil (JO) yang sudah tidak mengandung asam lemak bebas, sehingga dapat dikonversi menjadi biodiesel melalui reaksi transesterifikasi. b. Reaksi Transesterifikasi Reak